Artikel Detail

Sebagian Besar Sungai di Indonesia Tercemar, Apa Pengaruhnya Terhadap Penyediaan Air Minum?
  2023-12-08 07:51:22    Dibaca : 2773

41/B-NUWSP/Desember/2023

 

Menurut Badan Pusat Statistik (2023), sebagian besar sungai di Indonesia tercemar pada tahun 2022. Dari 111 sungai yang diidentifikasi, hanya 8,1% yang memenuhi baku mutu. Sungai dengan kualitas yang baik ini, tersebar di beberapa lokasi seperti Jambi (Sungai Batang Tebo); Sumatera Selatan (Sungai Temam dan Megang); Kepulauan Bangka Belitung (Sungai Baturusa); Kepulauan Riau (Sungai Sei Jago); Jawa Timur (Sungai Kali Tengah); Bali (Sungai Tukad Daya dan Tukad Balian); dan Papua Barat (Sungai Kali Mati). Sementara 91,9% sungai lainnya masuk dalam kategori berbeda seperti terlihat pada gambar 1 (KLHK dalam BPS, 2023; Shafina, 2023).

Gambar 1. Kualitas air sungai di Indonesia pada tahun 2022 (Shafina, 2023)

Menurunnya kualitas air sungai dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu limbah domestik, industri, pertanian, peternakan, maupun perikanan (Anam, 2022; Global Waters, 2021). Dari seluruh faktor tersebut, pencemaran paling besar berasal dari limbah domestik (BPS dalam Anam, 2023). Menurunnya kualitas air sungai akibat limbah domestik dapat dipicu oleh sistem sanitasi yang buruk serta masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah ke badan air (Global Waters, 2021).

 ​​​​​​​

Gambar 2. Perilaku yang memicu penurunan kualitas air sungai akibat limbah domestik

Pengaruh Kualitas Sungai terhadap Penyediaan Air Minum

Penyediaan air minum perlu ditinjau secara holistik dari hulu ke hilir, mulai dari air baku hingga menjadi air yang siap digunakan oleh masyarakat. Ini adalah hal yang esensial demi menunjang keberlanjutan proses penyediaan air minum. Oleh karena itu, kualitas air baku menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan. Meskipun air tanah masih banyak digunakan, penyediaan air minum khususnya di perkotaan sebagian besar dilayani oleh PDAM. Dari seluruh PDAM yang beroperasi, mayoritas bergantung pada air sungai untuk kebutuhan air bakunya (Asian Development Bank, 2016). Pelajari selengkapnya mengenai air baku di sini.

Gambar 3. Beragam sumber air baku

Sebelum digunakan masyarakat, air sungai sebagai air baku akan diolah terlebih dahulu oleh PDAM. Bila kualitas air sungai semakin buruk, maka bahan baku air minum yang digunakan oleh PDAM pun akan memerlukan proses pengolahan yang lebih intens (Priyono dkk, 2013). Nantinya, biaya pengolahan yang meningkat akan berdampak pada kinerja PDAM, khususnya terkait dengan pemenuhan tarif Full Cost Recovery (FCR). Terpenuhinya tarif FCR menunjukkan bahwa seluruh biaya yang dikeluarkan oleh PDAM mampu tertutupi oleh tarif air minum yang dibayar masyarakat. Kaitan antara kualitas air sungai dengan tarif FCR ini dapat kita lihat pada tahun 2020 dan 2021. Pada tahun 2021, kualitas air sungai cenderung membaik dari tahun 2020. Beriringan dengan hal tersebut, pemenuhan tarif FCR pun turut meningkat pada tahun 2021 (Kementerian PUPR, 2020; 2021; 2022). Artinya, terdapat lebih banyak PDAM yang mampu membiayai operasional penyediaan air minumnya. Tak dapat dipungkiri bahwa perubahan kualitas air sungai berpotensi memengaruhi kinerja PDAM, khususnya dalam aspek finansial.

 ​​​​​​​

Gambar 4. (a) kualitas air sungai di Indonesia pada tahun 2020 dan (b) 2021 (Diolah berdasarkan BPS, 2023)

Sejalan dengan hal tersebut, perwakilan Bappenas, Ir. Nugroho Tri Utomo menambahkan, meningkatnya jumlah pencemar di sungai akan berdampak pada meningkatnya biaya produksi air. Lebih jauh lagi, meningkatnya biaya produksi air oleh PDAM dapat memicu kenaikan tarif air yang dibebankan kepada masyarakat. Hal ini mungkin dapat teratasi oleh PDAM yang berkinerja baik. Namun jika PDAM sebagai penyedia air minum memiliki kinerja keuangan yang kurang baik serta memiliki keterbatasan pada kapasitas pengolahan airnya, kondisi ini dapat berpengaruh pada menurunnya layanan air minum untuk masyarakat (Warsun, 2023; Pokja AMPL, 2007).

Itulah penjelasan mengenai pengaruh kualitas air sungai terhadap penyediaan air minum. Untuk memitigasi penurunan kualitas air sungai sebagai air baku, kita perlu menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab terhadap limbahnya, baik sebagai individu maupun sebagai pelaku industri, demi menunjang keberlanjutan penyediaan air minum di Indonesia.

 

Sumber:

1. Asian Development Bank (2016): Indonesia Country Water Assessment, diperoleh melalui situs internet: https://www.adb.org/sites/default/files/institutional-document/183339/ino-water-assessment.pdf.

2. Anam, Khairul (2023): Indeks Kualitas Air Indonesia Masih Rendah, Kenapa?, diperoleh melalui situs internet: https://www.cnbcindonesia.com/news/20221206153547-4-394262/indeks-kualitas-air-indonesia-masih-rendah-kenapa.

3. Badan Pusat Statistik (2023): Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2023, diperoleh melalui situs internet: https://www.bps.go.id/id/publication/2023/11/30/d3456ff24f1d2f2cfd0ccbb0/statistik-lingkungan-hidup-indonesia-2023.html.

4. Global Waters (2021): Indonesia Water Resources Profile Overview, diperoleh melalui situs internet: https://www.globalwaters.org/sites/default/files/indonesia_country_profile_final.pdf.

5. Kementerian PUPR (2020): Buku Kinerja BUMD Air Minum 2020.

6. Kementerian PUPR (2021): Buku Kinerja BUMD Air Minum 2021.

7. Kementerian PUPR (2022): Buku Kinerja BUMD Air Minum 2022.

8. Pokja AMPL (2007): Akibat Pencemaran Sungai, Pelanggan Tanggung Risiko 25% dari Tarif Air PDAM, diperoleh melalui situs internet: https://www.ampl.or.id/digilib/read/akibat-pencemaran-sungai-pelanggan-tanggung-risiko-25-dari-tarif-air-pdam/35794.

9. Priyono, T. S. C., Yuliani, E., dan Sayekti, R. W. (2013): Studi Penentuan Status Mutu Air di Sungai Surabaya untuk Keperluan Bahan Baku Air Minum, Jurnal Teknik Pengairan, Volume 4, Nomor 1.

10. Shafina, Gamma (2023): Mayoritas Sungai di Indonesia Tercemar Ringan pada 2022, diperoleh melalui situs internet: https://data.goodstats.id/statistic/gammashafina/mayoritas-sungai-di-indonesia-tercemar-ringan-pada-2022-cx3U6.

11. Warsun (2023): Sungai Sudah Tercemar, Sarolangun Dalam Ancaman Krisis Air Bersih, diperoleh melalui situs internet: https://www.gatra.com/news-571649-sumatera-sungai-sudah-tercemar-sarolangun-dalam-ancaman-krisis-air-bersih.html.

Kredit Foto:

1. Andersen Oystein dalam Canva Pro.

2. Bakarudin, Ellinnur dalam Canva Pro.

3. Brejeq dalam Canva Pro.

4. Karimpard dalam Canva Pro.

5. Rahmatullah (2017): Nadzir Mengaku Nyaman BAB di Ruang Terbuka, diperoleh melalui situs internet: https://nusantara.medcom.id/jawa-timur/peristiwa/GNGy2OQk-nadzir-mengaku-nyaman-bab-di-ruang-terbuka.

6. Syarif, Nadiya (2021): Psikologi dan Perilaku Membuang Sampah ke Sungai, diperoleh melalui situs internet: http://www.psikogenesis.com/2021/10/psikologi-dan-perilaku-membuang-sampah.html.

 

Ditulis oleh:

Deviana Matudilifa Yusuf

 

#nuwsp #ditairminun #ciptakarya #watersupply

#pencemaran #contamination #sungaitercemar #contaminatedriver #penyediaanairminum #drinkingwatersupply 

Share On :

  • Direktorat Air Minum,
    Ditjen Cipta Karya,
    Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,
    Jl. Pattimura No. 20 Kebayoran Baru,
    Jakarta 12110.


  • 021-72796907

  • cpmunuwsp@gmail.com
    Visitor
  • Total:442,193
  • Bulan Ini :10,928
  • Seminggu Terakhir :5,726
  • Hari ini :452